Sabtu, 02 Desember 2017

Confused Story for Confused People


George (50 th) tinggal bersama istri, dan dua orang anaknya (Tony & Julia) di Washington. Menjelang datangnya bulan Dzul Hijjah, George dan istri serta anak -anaknya mengikuti berita-berita seputar penentuan tanggal 1 Dzul Hijjah. George aktif menyimak berita di radio. Istrinya menyimak lewat televisi. Sedangkan Tony rajin searching di internet.
Ketika pengumuman tanggal 1 Dzul Hijjah diumumkan, George sekeluarga bersiap-siap untuk menyambut Iedul Adha yang bertepatan dengan tanggal 10 Dzul Hijjah, setelah acara wukuf di Arafah tanggal 9-nya. Keesokannya, mereka sekeluarga pergi ke desa untuk membeli domba sesuai kriteria syari untuk dijadikan hewan kurban (udhiyyah), yaitu: tidak boleh buta sebelah, pincang, atau terlalu kurus. Mereka berniat menyembelihnya begitu hari raya tiba. Domba pun mereka bawa dengan pick-up sambil
terus mengembik di perjalanan…
Adapun Julia yang baru berusia 5 tahun, asyik berceloteh dan mengatakan, “Ayah… alangkah indahnya hari raya Iedul Adha! Aku akan pakai gaun baru, dapat THR, dan bisa membeli boneka baru… aku akan pergi bersama teman-temanku ke TOY CITY untuk bermain sepuasnya di sana… Duh, alangkah indahnya saat-saat hari raya”, katanya. “Andai aja semua hari adalah hari hara lanjutnya. Begitu mobil tiba di rumah, istri George berbisik, “Wahai suamiku tercinta… Kamu tahu khan, bahwa disunnahkan membagi daging korban menjadi tiga: sepertiga kita makan sendiri untuk beberapa hari ke depan, sepertiga kita sedekahkan ke fakir miskin, dan sepertiga lagi kita hadiahkan ke tetangga kita David, Elizabeth, dan Monica”.

Begitu Iedul Adha tiba, George dan istrinya bingung di manakah arah kiblat, karena mereka hendak menghadapkan domba kurban ke kiblat. Setelah menebak nebak, mereka memutuskan menghadapkan kurban ke arah Saudi Arabia, dan ini sudah cukup. Setelah mengasah pisau, George menghadapkan dombanya ke kiblat lalu menyembelihnya. Ia kemudian menguliti dan memotong-motong dagingnya. Adapun istrinya membaginya menjadi tiga bagian sesuai sunnah. Namun tiba-tiba George berteriak mengatakan, “Waduh, kita terlambat ke gereja… sebab ini hari Minggu dan kita akan terlambat menghadiri misa!”. George konon tidak pernah ketinggalan misa di Gereja setiap hari Minggu. Ia bahkan rajin membawa istri dan anak-anaknya ke gereja.

Sampai di sini, pengisah mengakhiri kisahnya tentang George. Salah satu yg hadir bertanya: “Waduh, kamu membingungkan kami dengan kisah ini !!! George ini seorang muslim ataukah Kristen??”. Pengisah menjawab: “George dan keluarganya adalah penganut Kristen. Mereka tidak meyakini kemahaesaan Allah, namun menganggapnya salah satu dari Tuhan yg tiga (trinitas). Mereka juga tidak percaya bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul” jelasnya.Majelispun geger mendengar penjelasan tersebut lalu salah satu yang di majelis berseru, “Hai Ahmad, kamu jangan membohongi kami. Siapa yang percaya kalau George dan keluarganya
melakukan itu semua? Mana mungkin seorang Nasrani menerapkan syiar-syiar Islam… mana mungkin mereka membuang-buang waktu untuk menyimak radio, televisi, dan internet sekedar untuk mengetahui kapan hari raya Iedul Adha tiba?? Mana mungkin mereka rela merogoh koceknya untuk membeli hewan kurban, lalu menyembelih dan membagi-baginya… dst!!!” kata si penanya.

Ahmad pun menjawab dengan senyum dan sedikit heran, “Wahai saudara-saudaraku tercinta, tentu kalian tidak mempercayai ceritaku. Kalian tidak akan membenarkan jika ada sebuah keluarga Kristen yang melakukan hal tersebut. Akan tetapi kita yang berada di negeri-negeri muslim: Abdullah, Muhammad, Khalid, Khadijah, Fatimah, dan nama-nama muslim lainnya dengan santai turut merayakan hari raya kaum Nasrani dan Yahudi. Kita turut merayakan tahun baru Masehi (Masehi nisbat kepada Isa Al Masih/Yesus), mengucapkan selamat Natal, merayakan Valentine’s Day, April Mop, Paskah, hari raya ini… dan itu…?”. “Mestinya, kita tidak perlu mengingkari bila George melakukan hal itu. Namun kita harus mengingkari diri dan keluarga kita sendiri”. kemudian dengan nada serius Ahmad melanjutkan, “Aku pernah tinggal di Amerika lebih dari 10 tahun, namun demi Allah, aku tak pernah sekalipun melihat seorang Kristen maupun Yahudi yang merayakan salah satu hari raya kita kaum muslimin. Aku juga tidak pernah mendapati seseorang dari mereka menanyakan tentang acara atau pesta yang kita rayakan. Sampai- sampai ketika aku berhari-raya di apartemenku, tidak ada seorang pun yang memenuhi undanganku setelah mereka tahu bahwa yang kurayakan adalah hari raya Islam. Aku menyaksikan itu semua selama aku tinggal di Barat, namun sekembaliku ke negeri muslim, ternyata kita merayakan hari raya mereka… falaa haulaa walaa quwwata illa billaahil adhiem.

Kisah ini ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Al Qasi dengan judul ( ﺟﻮﺭﺝ ﻭﺍﻟﻌﻴﺪ ).


Selasa, 04 November 2014

عهد السلام - Age of Peace

كلمات تفاؤليه وتحمل الكثير من الطموح
والتطلع للمستقبل الزاهر بكل تفاؤل وأمل
ونشق منها طريقا لروح التفاؤل 

حصريا لكم :) 

"عهد السلام"

 

يا ظلام الليل يكفي ما سكبنا من دموع
هتفت فيك جموعنا وتصغي للجموع
حين نادت يا ظلام الليل أوقدنا الشموع
إنه عهد جديد اسمه عهد السلام

بسمة الفجر أفيقي وارسمي للأفق ثغرا
واكتبي بالنور سِفرا وامسحي للجرح سطرا
واغرسي في كل قلبٍ فرحاً حباً وزهرا
إنه عهد جديد ...إنه عهد السلام

الليالي استيقظت من قرع أبواب السماء
وقلوبٌ ضارعاتٌ بابتهالٍ ورجاء
ربنا إياك ندعو فاستجب منا الدعاء
إنه عهد جديد اسمه عهد السلام

كم شبابٌ قد أرادوا ثم نالوا ما أرادوا
رتلوا إنا فتحنا وببشرى الفتح عادوا
فلهم تدنو نجومٌ وبهم تعلو بلاد
إنه عهد جديد ...عهد السلام

كلما قلنا: يئسنا.. قالت الآمال: كلا
فغداً تشرق شمسٌ والأماني تتجلى
لمَ لا نحلم دوماً نحن بالأحلام أحلى
إنه عهد جديد اسمه عهد السلام

الليالي استيقظت من قرع أبواب السماء
وقلوبٌ ضارعاتٌ بابتهالٍ ورجاء
ربنا إياك ندعو فاستجب منا الدعاء
إنه عهد جديد اسمه عهد السلام

عن قريبٍ تغمر الأيامَ أفراحٌ وطيبا
فنرى طفلاً ضحوكاً وكتاباً وحقيبة
ومواعيد غرامٍ لحبيبٍ وحبيبة
إنه عهد جديد اسمه عهد السلام

لأراجيح صغارٍ ولألعاب صبايا
ولأيامٍ تولت ولذكرى وحكايا
الغد الباسم آتٍ حاملاً معه الهدايا
إنه عهد جديد اسمه عهد السلام

يا ربيع العُرب طوبا أوشك البغي أُفولا
فاعزف النصر نشيداً وابعث اللحن رسولا
إنه الشرق ويا كم سحر الشرق عقولا
إنه عهد جديد اسمه عهد السلام

الليالي استيقظت من قرع أبواب السماء
وقلوبٌ ضارعاتٌ بابتهالٍ ورجاء
ربنا إياك ندعو فاستجب منا الدعاء
إنه عهد جديد اسمه عهد السلام

Minggu, 01 September 2013

9 Cara Untuk Memotivasi Diri Sendiri Ketika Lagi Down




Terkadang kita mengalami perasaan yang membuat kita lemah, padahal sebenarnya kita masih bisa melakukan yang terbaik, untuk itu kita perlu membekali diri dengan banyak hal berguna salah satunya yaitu dengan memotivasi diri sendiri. berikut adalah 9 cara agar kita kembali "move on" supaya kita kembali bisa menikmati hidup.

1. Ingat bahwa down itu hanya sementara

Ingat bahwa setiap koin itu punya 2 sisi, dan hanya karena Anda sedang mengalami sisi yang buruk, bukan berarti tidak ada sisi yang baik. Ketika momentum dan motivasi Anda sedang rendah, putuskan apa yang tidak ingin Anda lakukan dan Anda akan merubah situasinya.

Berjalan - jalan ketika Anda mengatakan Anda tidak mau. Telepon seseorang ketika Anda merasa tidak mau menelepon karena terlalu letih... Anda akan menyadari bahwa motivasi Anda sudah kembali. 

2. Ambil satu langkah kecil

Perubahan apapun bisa dimulai dari satu langkah kecil. Seringkali, kita membuat diri kita sendiri berimajinasi dengan memikirkan hal yang enak, namun sebenarnya kita butuh sesuatu yang lebih besar. Ambillah satu langkah kecil dan ulangi dengan mengembangkannya sedikit demi sedikit. Manfaatnya akan berkembang dan juga motivasi Anda. 

3. Fokus pada satu goal

Terkadang ketika kita merasa down, itu karena kita melakukan terlalu banyak hal dan tidak bisa fokus pada satu goal. Hasilnya kita akan merasa stress dan capek. Seperti kita membuat seekor unta terjatuh karena kita terlalu banyak membawa beban di punggungnya. Ini adalah masalah yang umum..

Berikut ini adalah solusi yang paling powerful : Pilihlah salah satu pekerjaan atau goal dan fokus. Lakukan satu hal itu dengan sebaik - baiknya. Anda akan memiliki lebih banyak waktu dan energi untuk mengerjakan yang lain, karena Anda sudah membangkitkan kembali motivasi dan semangat yang tadinya down. 

4. Ubah kata - kata Anda dan bangunlah momentum

Kata - kata Anda secara tidak sadar sangat luar biasa. Untuk maju ke depan, ubah nada dan arah berpikir Anda. Ubah kata - kata Anda dari "masalah" menjadi "kesempatan", dari kesulitan menjadi "manfaat". Perubahan kecil tetapi dilakukan secara konsisten akan mengubah "pesimis menjadi "optimis" dan "inersia" menjadi momentum. 

5. Berlatih untuk berpikir positif

Ketika Anda merasa down, sebenarnya Anda sedang "berpikir" down dan pemikiran itulah yang menjadi penyebab sesungguhnya dari perasaan Anda. Untuk memperbaiki situasi ini, cobalah untuk memulai berpikir ulang mengenai pemikiran Anda. Dengarkan apa yang Anda katakan kepada diri Anda sendiri. Apakah itu pikiran negatif yang membuat anda down. 

Untuk mengatasi pemikiran yang negatif itu, dan membangkitkan kembali semangat Anda, gantilah "Saya tidak bisa melakukannya" dengan "Perhatikan saya melakukannya." Ubah pikiran Anda dan Anda akan merubah motivasi dan perasaan Anda. 

6. Ingatkan diri Anda setiap hari

Buatlah sebuah pengingat didepan Anda yang memotivasi. Anda juga bisa berlangganan email yang memberikan Anda motivasi setiap pagi. Yang saya sarankan dari super email di samping.

Kirimkan pengingat kepada diri Anda sendiri atau buat catatan kecil dan huruf besar - besar, pasangkan gambar - gambar yang menarik perhatian Anda kemudian tempelkan di tempat - tempat yang mudah terlihat, seperti kaca, meja kerja, kulkas, atau bahkan kemudi mobil Anda. Jika "Luar jangkauan berarti di luar pemikiran", maka buat goal Anda "Tetap dalam jangkauan, didalam pikiran."

7. Pembaharui goal Anda

Buat banyak orang mengetahui apa goal Anda secara umum, dan buat keluarga, teman, dan rekan kerja tahu tentang goal anda secara spesifik. Dengan melakukan hal ini, Anda sudah berkomitmen pada diri Anda sendiri untuk keluar dari zona nyaman dan bergerak menuju action, dari stuck menjadi peningkatan signifikan.

8. Tarik nafas, tidur... dan mandi di pagi hari

Ada sebuah metode yang sangat bagus dan hebatnya hal itu selalu bekerja. Metodenya seperti ini..

Ketika kita merasa down dan stress, kita bisa bernafas dengan otot perut, dan ketika kita melepaskannya, katakan.." Saya akan tidur malam ini. Ketika saya tidur, saya akan tidur dengan nyenyak. Ketika saya bangun esok hari, saya akan kembali bugar dan penuh dengan semangat." Kemudian mandilah , dan ketika mandi itu, kita ubah pikiran kita menjadi hal yang positif. Lakukan hal itu dan bagikan pengalaman anda ke orang lain.
jangan lupa pake sabun ya.. :)

9. Ingat Anda tidak sendiri dan masih punya Tuhan

ketika Anda merasa permasalahan Anda terlalu berat dipikul, carilah sahabat atau orang terdekat untuk mencari solusi dan yang terpenting adalah pasrahkan diri kepada Sang Khaliq dan perbanyak langkah untuk mendekatkan diri-Nya.

be rilex guys!

Senin, 02 Juli 2012

Shalat di Belakang Imam yang Beda Madzhab


Seringkali kita menjumpai pertanyaan tentang shalat di belakang imam yang berbeda madzhab, terutama dari orang-orang yang akan berangkat haji ke tanah suci Makkah. Hal itu karena mereka melihat tayangan TV tentang shalat tarawih yang mana imamnya tidak terdengar membaca basmalah. Padahal menurut madzhab Syafi’i, madzhab yang populer di Indonesia, membaca surat al-Fatihah tanpa basmalah adalah membatalkan shalat. Di bawah ini fatwa para ulama yang membidangi  masalah ini.
Secara garis besar ada dua gambaran mengenai masalah ini.
Pertama; Makmum tidak mengetahui sesuatu yang membatalkan shalat dari imamnya. Dalam keadaan ini, makmum shalat di belakang imam menurut kesepakatan salaf, empat imam dan selain mereka. Tidak ada perselisihan mengenai masalah ini.
Kedua; Makmum yakin bahwa imam melakukan sesuatu yang menurut makmum tadi tidak boleh, seperti menyentuh perempuan dengan syahwat, telah melakukan bekam, mengambil darah dari tubuh, atau muntah, kemudian ia shalat tanpa berwudhu terlebih dahulu. Dalam hal ini terdapat perselisihan yang masyhur. Akan tetapi, sahnya shalat makmum tadi merupakan pendapat mayoritas ulama salaf dan ini merupakan madzhab Imam Malik, Imam Syafi’i dalam salah satu pendapatnya, dan Imam Abu Hanifah. Kebanyakan teks-teks Imam Ahmad juga mengacu demikian,  dan inilah yang benar.
Demikian keterangan Ibnu Taimiyah yang dikutip oleh Syaikh Yusuf Qardhawi dalam al-Fatawa al-Mu’ashirah (1/230).
Di dalam kitab tadi juga disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah mengatakan, “Kaum muslimin telah sepakat boleh shalat sebagian mereka di belakang sebagian yang lain, sebagaimana para sahabat, tabi’in, dan empat imam setelah mereka. Sebagian mereka shalat di belakang sebagian yang lain. Orang yang mengingkari hal ini adalah ahli bid’ah dan bertentangan dengan Al-Qur`an, Sunnah, dan ijma’ kaum muslimin.
Di antara para sahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka ada yang membaca basmalah dan ada yang tidak membaca basmalah. Meskipun demikian, mereka shalat berjamaah tanpa ada masalah, sebagaimana Abu Hanifah dan murid-muridnya, Imam Syafi’i dan selain mereka shalat di belakang imam-imam penduduk Madinah dari Malikiyah, meskipun Imam-Imam Malikiyah ini tidak membaca basmalah, baik secara lirih maupun keras.
Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) shalat di belakang khalifah Harun ar-Rasyid, padahal ketika itu ia telah berbekam (yang menurut madzhab Hanafi membatalkan wudhu). Imam Malik memberikan fatwa kepadanya bahwa tidak perlu berwudhu. Lalu Abu Yusuf shalat di belakang Harun ar-Rasyid tanpa mengulangi shalatnya.
Imam Ahmad bin Hanbal berpandangan wajibnya wudhu karena bekam dan mimisan. Namun, ketika ditanya, “Jika imamku telah mengeluarkan darah dan ia tidak berwudhu, apakah aku shalat di belakangnya?” Imam Ahmad menjawab, “Bagaimana kamu tidak shalat di belakang Said bin al-Musayyab dan Imam Malik?”
Syaikh Yusuf Qardhawi juga cenderung dengan pandangan Ibnu Taimiyah ini.
Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (2/347) menyebutkan bahwa madzhab Hanafiyah dan Syafi’iyah mensyaratkan shalat imam harus sah menurut keyakinan makmum. Sementara madzhab Malikiyah dan Hanabilah tidak mensyaratkan demikian. Menurut mereka, yang penting shalat imam sah menurut imam itu sendiri, walaupun menurut makmum tidak sah.
Syaikh Wahbah az-Zuhaili memilih mazhab Malikiyah dan Hanabilah karena lebih sahih dari segi penalaran, ditambah fakta bahwa para sahabat dan umat Islam setelah mereka, sebagian mereka shalat di belakang sebagian yang lain, meskipun mereka berbeda pendapat mengenai masalah cabang (fiqih). Hal ini merupakan ijma’ dan dengan cara ini efek-efek fanatisme hilang.
Dalam kitab al-Majmu’ (4/288-290), karya Imam Nawawi yang bermadzhab Syafi’i, para ulama Syafi’iyah terpecah menjadi empat pendapat. Ada yang mengatakan sah secara mutlak, ada yang mengatakan tidak sah mutlak dan dua pendapat lagi merinci masalah. Di antara yang berpendapat sah mutlak adalah Imam Qaffal.


Hanafiyah Ikut Qunut jika Bermakmum kepada Syafi’iyah

Tidak hanya Ibnu Hazm yang membahas masalah bermakmum kepada Imam yang berbeda madzhab. Madzab 4 juga sudah membahasa bagaimana seharusnya kaetika penganutnya bermakmun kepada imam di madzhab lainnya. Salah satu contohnya, Al Marghinani salah satu ulama besar madzhab Hanafi memilih mengambil pendapat Imam Abu Yusuf yang berpendapat untuk mengikuti Imam jika ia berqunut di shalat shubuh. Padahal Madzhab Hanafi sendiri tidak berqunut di waktu itu. Kemudian beliau menyatakan,”Hal ini menunjukkan bolehnya mengikuti imam yang bermadzhab As Syafi’i” (Fath Al Qadir Syarh Al Hidayah, 1/ 310)


Kisah serupa terjadi tatkala Harun Ar Rasyid saat menjadi Imam setelah beliau berbekam tanpa berwudhu sesuai dengan pendapat Malik, namun Imam Abu Yusuf murid Abu Hanifah tetap bermakmum kepada beliau walau berbeda pandangan. (Al Inshaf, hal. 24-25)


Hal yang sama dilakukan oleh Imam Ahmad yang berpendapat batalnya wudhu dengan mimisan dan berbekam. Suatu saat ada yang mengatakan kepada beliau,”Jika ada Imam telah keluar darah darinya, dan tidak berwudhu, apakah engkau shalat di belakangnya?” Imam Ahmad menjawab,”Bagaimana bisa saya tidak shalat di belakang Imam Malik dan Said bin Musayyab?” (Al Inshaf, hal. 24-25)


Imam Ahmad sendiri pernah memilih mengeraskan basmallah ketika shalat di Madinah walau tidak sependapat. Qadhi Abu Ya’la menilai bahwa hal itu disebabkan penduduk Madinah membacanya jahr. Dan beliau memilih sikap itu dalam rangka mempererat ukhuwwah. (Al Inshaf, 24-25)


Nah, kalau ulama besar bertoleransi terhadap madzhab lainnya, tentu umat Islam yang bukan ulama perlu mengambil suri tauladan dari mereka. Sehingga hubungan antar umat Islam yang berpeda pendapat dalam masalah fiqih harmonis dan tidak terjadi permusuhan karena hal itu.


Dengan demikian, jelas bahwa pendapat yang lebih kuat, lebih bisa diterima akal, lebih menjaga persatuan dan sesuai dengan tujuan-tujuan umum syariat adalah pendapat yang mengatakan bahwa shalat di belakang imam yang berbeda madzhab adalah sah, walaupun imam melakukan sesuatu yang tidak sah menurut makmum. Jadi, yang dijadikan tolok ukur adalah sah dan tidaknya shalat imam menurut madzhab yang dianut imam itu.